Artikel

UNMET NEED: TAK KENAL MAKA TAK SAYANG

Oleh:
Dudi Fahdiansyah
Kepala Sub Bidang Bina Kesertaan KB Jalur Pemerintah dan Swasta

Seiring dengan perubahan Undang-Undang No. 10 Tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera menjadi Undang-Undang No.52 Tahun 2009 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga, pengertian Keluarga Berencana (KB) juga mengalami perubahan. Pada UU No.10 tahun 1992 dijelasakan bahwa KB adalah peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui PendewasaanUsia Perkawinan, Pengaturan Kehamilan, Peningkatan Ketahanan Keluarga, Peningkatan Kesejahteraan Keluarga untuk mewujudkan Keluarga Kecil yang Bahagia dan Sejahtera. Sedangkan UU No. 52 Tahun 2009 menyebutkan bahwa KB yaitu upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, mengatur kehamilan, melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas.

Perubahan pengertian KB merujuk pada perubahan lingkungan strategis program dan berdampak pada perubahan tugas dan fungsi BKKBN itu sendiri. Penguatan melalui program kependudukan dan pembangunan keluarga menjadi bagian penting dalam pengembangan program KKBPK saat ini.

Senada dengan Undang-Undang diatas, World Health Organization (WHO) memberikan pengertian tentang KB yaitu tindakan yang membantu pasangan suami isteri untuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur interval di antara kelahiran, mengontrol waktu kelahiran dan menentukan jumlah anak dalam keluarga.

Di era Millenial program KB semakin digaungkan dengan menyasar masyarakat dari berbagai kelompok umur. Utamanya Pasangan Usia Subur (PUS) pada kelompok umur 15-19 tahun, karena usia ini merupakan usia yang memiliki potensi tinggi melahirkan dan memiliki kesempatan masa reproduksi yang relatif lama.

Dalam penerapannya, program KKBPK harus merubah wajah dan penampilan agar lebih milenial, karena berdasarkan data BPS tahun 2018, piramida penduduk di Sulawesi Barat menggelembung pada usia 15-24 tahun. Penguatan program Pembangunan keluarga merupakan salah satu langkah strategis untuk merangkul kaum milenial.

Program KB dan Kaum Milenial

Milenial sejatinya bukan istilah baru dikalangan masyarakat, karena istilah ini merujuk pada suatu kondisi waktu, zaman atau era yang serba digital dan canggih. Penguasaan informasi dan teknologi (IT) merupakan ciri khas pada era ini. Ketegantungan yang sangat tinggi terhadap pemanfaatan IT diberbagai aspek kehidupan menjadikan era ini dianggap sebagai peradaban yang jauh lebih maju. Pemanfaatan IT tidak hanya pada hal-hal yang rumit seperti teknologi industri bahkan sampai ke hal-hal yang sederhana seperti komunikasi, face to face dan lain sebagainya.

Karakteristik Milenial pada umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital, saling terkoneksi, cepat menangkap data dan informasi, menyukai perkembangan diri dan karir cepat, progresif, spontan dan menyukai inovasi dan kreatif.

Secara historis istilah milenial mulai dikenalkan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe yang dipopulerkan melalui buku-bukunya dengan istilah Millennials. Millannial generation atau generasi Y juga akrab disebut generation me atau echo boomers. Lebih jauh lagi para pakar menggolongkan generasi Y ini berdasarkan tahun awal dan akhir kelahiran mereka. Penggolongan generasi Y terbentuk bagi mereka yang lahir pada 1980 – 1990, atau pada awal 2000 dan seterusnya.

Kelompok generasi ini memang tidak ada dalam demografi khusus, namun secara umum dapat digambarkan bahwa penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh kaum milenial. Bappenas memproyeksikan bahwa tahun 2018 jumlah kaum milenial di Indonesia lebih dari 90 juta. Angka ini merupakan jumlah terbesar selama Indonesia berdiri. Dari jumlah tersebut terdapat 35% merupakan kaum milenial yang produktif. Hal ini merupakan peluang untuk mendapatkan bonus demografi yang terjadi hanya sekali dalam peradaban sebuah negara.

Maka program KKBPK juga harus melihat ini sebagai peluang sekaligus sebagai tantangan untuk mewujudkan Bonus demografi. Program penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja (PKBR) yang dikemas dalam program Genre merupakan salah satu strategi yang dilakukan oleh BKKBN. Program Genre pada intinya memberikan pemahaman tentang penyiapan kehidupan berkeluarga sejak dini bagi kaum milenial dan menghindari 3 (tiga) resiko kesehatan reproduksi yakni Menikah diusia dini, melakukan seks pra nikah dan menghindari Napza. Ketiga hal ini merupakan musuh utama bagi kaum milenial saat ini, apalgi diperparah oleh gencarnya arus teknologi dan informasi.

Provinsi Sulawesi Barat saat ini memiliki 2 (dua) isu penting yaitu pernikahan diusia dini dan Stunting. Jumlah anak yang menikah di usia dini yang tertinggi di Indonesia terdapat di provinsi Sulawesi Barat. Sesuai dengan data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 bahwa perempuan yang melakukan pernikahan diusia dini atau kurang dari 21 tahun sebanyak 114.741 orang dan laki-laki yang menikah di bawah usia 25 tahun mencapai 94.567 orang. Tingginya angka perkawinan anak ini hadir dengan efek domino alias dampak berkelanjutan yang akibatnya tidak hanya bagi anak itu sendiri, namun juga akan dirasakan oleh orangtua, keluarga, masyarakat bahkan negara.

Tingginya jumlah pernikahan di usia dini tentu saja akan berkontribusi terhadap meningkatnya jumlah Pasangan Usia Subur (PUS), terutama PUS muda. Pemahaman kesehatan reproduksi (Kespro) dikalangan PUS muda relative masih rendah dan akan berdampak pada tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak (AKI dan AKA). Penguatan KIE tentang kespro merupakan salah satu langkah antisipatif  untuk menurunkan resiko kehamilan di usia muda. Jika diperlukan sebaiknya PUS muda untuk menunda kehamilan sampai batas usia ideal untuk hamil yaitu pada usia 21 tahun. Pada usia tersebut, resiko tinggi kehamilan dapat diminimalisir seperti potensi terjadinya perobekan rahim, pre eklampsia, abortus dan lain sebaganya.

Isu kedua yang tidak kalah pentingnya yaitu Stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.

PUS dan Unmet Need

Tujuan umum program KB adalah membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan sosial ekonomi dengancara pengaturan kelahiran anak agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapatmemenuhi kebutuhan hidupnya.

Kenyataan dimasyarakat masih banyak PUS yang belum menggunakan kontrasepsi padahal mereka masih memerlukan kontrasepsi tersebut yang dikenal dengan unmet need KB (Sariestya, 2014:2).

Unmet need merupakan ‘kerikil tajam’ yang selalu menjadi sandungan dalam pencapaian program KB. Tingginya Unmet Need secara umum dipengaruhi oleh perkembangan kependudukan yang berlangsung secara cepat dan dinamis. maka sangat sesuai apabila Thomas Malthus dalam bukunya yang berjudul An Essay on the Principle of Population as it Affects the Future Improvement of Society mengatakan bahwa penduduk cenderung tumbuh sesuai deret ukur. Jika dimaknai lebih jauh bahwa pertumbuhan penduduk disuatu wilayah tidak mampu diproyeksi secara akurat dan tepat karena adanya kelahiran, kematian dan migrasi.

Unmet need merupaka suatu kondisi yang mengisyaratkan keinginan pasangan usia subur (PUS) terhadap suatu jenis alat kontrasepsi yang tidak tersedia, sehingga mereka mengambil keputusan tidak menggunakan alat atau metode kontrasepsi.

Konsep wanita dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi (Unmet Need) adalah mereka yang subur dan aktif secara seksual tetapi tidak menggunakan metode kontrasepsi apa pun, dan melaporkan tidak menginginkan anak lagi atau ingin menunda anak berikutnya. Konsep yang tidak terpenuhi juga menunjukkan kesenjangan antara niat reproduksi perempuan dan perilaku kontrasepsi. Unmet need sangat tinggi di antara kelompok-kelompok seperti keluarga remaja, penduduk daerah kumuh/miskin perkotaan, pengungsi dan wanita dalam periode postpartum.

Dari Statistik Rutin (SR) BKKBN diperoleh data bahwa jumlah PUS di provinsi Sulawesi Barat tahun 2018 sebanyak 203.677, sedangkan PUS yang tidak berKB sebesar 59.235 (29.08%). Sedangkan Unmet Need sebesar 14.18% dan terjadi penurunan dibanding tahun 2017 dengan unmet need sebesar 17,94% dari 205.805 PUS. Jika dilihat dari indikator Unmet need, di Provinsi Sulawesi Barat terdapat PUS yang berkeinginan menunda kelahiran sebanyak 14.672 (24,77%), sedangkan PUS yang tidak berkeinginan untuk memiliki anak lagi sebanyak 14.215 (24.00%).

Tahun 2018, Kabupaten Majene memiliki Unmet Need yang paling rendah dibanding 5 (lima) kabupaten lainnya (9,85%) sedangkan yang tertinggi terdapat di kabupaten Mamuju Tengah (18,17%). Mengapa kabupaten Majene bisa menurunkan jumlah Unmet Neednya sedemikian drastisnya dibanding kabupaten-kabupaten lain? Setidaknya ada 3 alasan yang dapat dikemukakan pada tulisan ini.

  • Pengorganisasian program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di kabupaten Majene sangat baik.
  • Pembinaan oleh OPD-KB kabupaten rutin dilaksanakan baik di Balai Penyuluh maupun fasilitas kesehatan.
  • Pemahaman penyuluh KB (PKB) tentang pengelolaan program KKBPK sangat memadai sehingga berpengaruh pada capaian pelaksanaan program itu sendiri.

Menurut BKKBN (2009:46) PUS pasangan yang istrinya berumur 15-49 tahun atau pasangan suami-istri berumur kurang dari 15 tahun dan sudah haid atau istri berumur lebih dari 50 tahun tetapi masih haid (datang bulan). Berdasarkan pengertian tersebut, wanita yang dimaksud pada PUS adalah wanita usia antara 15-49 tahun dimana organ reproduksinya masih berfungsi dengan baik sehingga lebih mudah untuk mendapatkan kehamilan dan memiliki kemampuan untuk melahirkan anak.

Wanita yang berstatus PUS dianggap memiliki unmet need KB untuk penundaan kehamilan jika: 1). Berisiko hamil karena tidak menggunakan kontrasepsi dan juga tidak ingin hamil dalam waktu dua tahun ke depan, atau tidak yakin apakah ingin hamil atau kapan ingin hamil, 2). Hamil dengan kehamilan yang belum diinginkan, 3). Masa nifas sampai dengan dua tahun setelah kelahiran yang belum diinginkan dan tidak menggunakan kontrasepsi.

Selain itu wanita dianggap memiliki unmet need KB untuk pembatasan kehamilan jika: 1). Berisiko hamil karena tidak menggunakan kontrasepsi dan tidak ingin anak lagi, 2). Hamil dengan kehamilan yang tidak diinginkan, 3). Masa nifas sampai dengan dua tahun setelah kelahiran tidak diinginkan dan tidak menggunakan kontrasepsi.

Faktor Penyebab Unmet Need KB

Unmet need sebenarnya sudah merebak sejak tahun 1960-an, namun baru dirasakan penting untuk diteliti pada awal tahun 1900-an. Berdasarkan hasil analisis perbandingan studifertilitas antara beberapa negara di dunia, proporsi kelompok unmet need cukup menonjol dibeberapa negara berkembang termasuk Indonesia. Hasil penelitian tersebut sangat penting untuk mendapatkan gambaran pencapaian program KB dan mengetahui keadaan sasaran yang belum tergarap, dengan mengetahui proporsi kelompok tersebut akan diketahui besarnya sasaran potensial yang masih perlu diajak untuk ber-KB. Di Negara berkembang, wanita usia reproduksi yang tidak menggunakan kontrasepsi lebih memilih untuk menunda atau membatasi kelahiran. Hal ini menunjukkan kegagalan mereka untuk mengambil keputusan yang diperlukan untuk mencegah dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan.

Dapat dikatakan bahwa Unmet need terjadi karena adanya perubahan prevalensi kontrasepsi dan perubahan perilaku reproduksi.

Hasil Survei Kinerja dan Akuntabilitas Program KKBPK (SKAP) 2018, Unmet Need tinggi pada keinginan PUS untuk mengakhiri kehamilan (7,8%) dibanding dengan penjarangan kehamilan (4,5%). Pada kelompok usia PUS 15-19 tahun lebih besar penjarangan kehamilan(9,4%) dibanding mengakhiri kehamilan (0,4%).

Alasan tingginya unmet need KB selain karena sosial demografi dan ekonomi juga karena efek samping dari metode kontrasepsi. Efek samping dari metode kontrasepsi juga merupakan faktor yang menyebabkan akseptor mengalami drop-out dari KB yang digunakan (Witjaksono, J, 2012: 3).

Faktor penyebab unmet need KB diantaranya kurangnnya pengetahuan tentang KB, kurangnnya dukungan suami, dan kurannya KIE KB. Beberapa penelitian lainnya mengungkapkan bahwa unmet need KB dipengaruhi oleh faktor sosial demografi diantaranya: umur, paritas, pendidikan, alat kontrasepsi yang pernah digunakan dan daerah tempat tinggal.

Dibawah ini penulis mencoba menguraikan factor penyebab Unmet Need KB sebagai berikut:

  1. Karakteristik Demografi

Secara demografi, Umur sangat berpengaruh dalam merencanakan kehamilan dan kelahiran, pada usia kurang dari 20 tahun sangat tidak dianjurkan bagi wanita PUS untuk melahirkan, demikian pula halnya pada usia 35 tahun keatas maka wanita PUS harus mengakhiri kehamilannya.  Hal ini senada dengan pendapat Prawirohardjo Sarwono (2013) Umur sangat berpengaruh dalam mengatur jumlah anak yang dilahirkan. Periode umur 20-35 tahun adalah periode menjarangkan kehamilan untuk itu diperlukan metode yang keefektivitasanya cukup tinggi, jangka waktu lama (2-4 tahun) dan reversibel, dan periode lebih dari 35 tahun merupakan fase menghentikan kehamilan sehingga dibutuhkan kontrasepsi dengan kriteria yang lebih tinggi dan tidak menambah kelainan atau penyakit yang sudah ada. Perbedaan fungsi fisiologis, komposisi biokimiawi dan sistem hormonal akan mempengaruhi pemakaian alat kontrasepsi yang bermaksud untuk menyelamatkan ibu dan anak akibat melahirkan pada usia tua.

Selain itu jumlah anak merupakan tinjauan lain secara demografi. Jumlah anak akan sangat menentukan keinginan wanita PUS untuk memilih menjarangkan kelahiran atau mengakhiri kehamilan. Semakin besar jumlah anak masih hidup yang dimiliki, maka akan semakin besar kemungkinan preferensi fertilitas yang diinginkan sudah terpenuhi, sehingga semakin besar peluang munculnya keinginan untuk menjarangkan kelahiran atau membatasi kelahiran dan begitu pula peluang terjadinya unmet need KB bagi wanita tersebut.

  1. Karakteristik Sosial Ekonomi

Sosial Ekonomi adalah kedudukan atau posisi seseorang dalam kelompok masyarakat yang ditentukan oleh jenis aktivitas ekonomi, tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, rumah tinggal, dan jabatan dalam organisasi. Dengan demikian, keadaan sosial ekonomi adalah gambaran mengenai situasi yang sedang berlaku yang dapat dilihat dari aspek ekonomi dan aspek sosialnya.

Karakter social ekonomi sangat dipengaruhi oleh beberapa unsur yaitu tingkat Pendidikan, Pengetahuan PUS mengenai KB, Pendapatan dan Biaya alat kontrasepsi. Wanita PUS unmet need KB yang berpendidikan tingggi memiliki pemahaman yang cukup tentang informasi yang diterimanya salah satunya informasi tentang keluarga berencana, sehingga peluang wanita PUS unmet need KB yang berpendidikan tinggi akan semakin tinggi mengalami unmet need KB karena mereka memahami dampak atau faktor resiko terhadap penggunaan alat kontrasepsi (Porow, 2015:5).

Kemudian keterjagkauan informasi yang diperoleh PUS akan berdampak pada keputusan yang akan diambil. Oleh sebab itu, Konseling KB sangat dianjurkan agar tidak terjadi ‘penggerusan’ dalam membangun pemahaman wanita PUS dalam ber-KB.

  1. Karakteristik Psikologi

Secara psikologis, Unmet need dipengaruhi oleh dukungan suami terhadap isteri sebagai bentuk kerja sama yang baik. Bentuk dukungan yang diharapkan dapat berupa dukungan langsung maupun tidak langsung. Dukungan langsung berupa keikutsertaan suami dalam menggunakan alat kontrasepsi pria seperti kondom dan vasektomi. Keterlibatan langsung suami dalam ber-KB di Sulawesi Barat masih sangat kecil, pada tahun 2018 sekitar 1,51% yang ikut berKB dari total PUS yang ada.

Sedangkan partisipasi pria secara tidak langsung dalam program KB yaitu a). menganjurkan, mendukung atau memberi kebebasan kepada pasangannya (istri) untuk menggunakan kontrasepsi. b). Mendukung Istri dalam Penggunaan Kontrasepsi Partisipasi pria dalam menganjurkan. Mendukung dan memberikan kebebasan wanita pasangannya (istri) untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/metode KB diawali sejak pria tersebut melakukan akad nikah dengan wanita pasangannya, dalam mencanangkan jumlah anak yang akan dimiliki, sampai dengan akhir masa reproduksi (menopouse) istrinya.

  1. Kesehatan

Efek samping merupakan salah satu factor yang memicu PUS untuk tidak ber-KB. Banyaknya efek samping yang ditimbulkan oleh setiap alat kontrasepsi modern menjadi salah satu tantangan dalam melakukan pelayanan KB. Oleh sebab itu, perlu dilakukan konseling secara mendalam kepada calon akseptor KB supaya memahami kondisi setiap alokon yang akan digunakan.

Efek samping dari metode kontrasepsi juga merupakan faktor yang menyebabkan akseptor mengalami drop-out dari KB yang digunakan (Witjaksono, J, 2012:3). Banyak perempuan mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi. Hal ini tidak hanya karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga oleh ketidaktahuan mereka tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut. Berbagai faktor harus dipertimbangkan termasuk status kesehatan, efek samping potensional, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besar/porsi keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan bahkan norma budaya lingkungan dan orang tua.

Daftar Pustaka

 

  1. Esinoza, Chip and Schwarzbart, 2016. Millenials who Manage; Mengoptimalkan interaksi multigenerasi dan menjadi pemimpin hebat. Jakarta;PT. Elex Media Komputindo
  2. 2018. Laporan SKAP; Keluarga. Jakarta
  3. Santoso, Slamet. 2010. Teori-Teori Psikologi Sosial. Bandung; PT. Refika Aditama.
  4. http://www.feb.unpad.ac.id/dokumen/files/compressed_DRAFT-AWAL-Buku-Ekonomi-Kependudukan-tim-ALG-Prof-Taticompressed.pdf
  5. http://www.depkes.go.id/article/view/18040700002/cegah-stunting-dengan-perbaikan-pola-makan-pola-asuh-dan-sanitasi-2-.html 
  6. http://digilib.unila.ac.id/54535/3/SKRIPSI%20TANPA%20BAB%20PEMBAHASAN.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *