Uncategorized

Ramadan, Bulan Latihan Cinta pada Lingkungan

Oleh Amirullah Bandu (Ketua Koalisi Muda Kependudukan Sulawesi Barat)
Keberadaan dan kenyamanan manusia saat ini, tak bisa dipisahkan dengan kelestarian lingkungan. Lingkungan yang sehat nan asri sudah menjadi dampaan setiap penghuni bumi, walau dalam kenyataannya, tak sedikit di antara mereka mendambakannya hanya sebatas di bibir saja. Dalam praktiknya, masih melakukan perbuatan-perbuatan yang malah merusak lingkungan.

Salah satu permasalahan besar saat ini adalah pencemaran lingkungan dengan sampah plastik. Bahkan lebih parahnya, Indonesia tercatat jadi pencemar sampah plastik ke lautan global kedua terbesar setelah Cina. Setiap tahun sekitar 3 juta ton sampah plastik Indonesia masuk ke lautan. Itulah mungkin sebabnya, negara tercinta ini juga sudah darurat sampah plastik.

Padahal, kita sebagai orang beragama telah dianjurkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan. Karena segala kerusakan yang terjadi di seluruh permukaan bumi sekarang ini tidak bisa dipisahkan dari ulah tangan kita sebagai manusia.

Bahkan dalam Alquran Surah Ar-Rum ayat 41, Allah SWT telah memperingatkan kepada hamba-Nya.
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Menalar dengan singkat ayat tersebut, maka kita dapat menyimpulkan bahwa membeludaknya sampah, khususnya sampah plastik jelas adalah buah tangan manusia itu sendiri.
Olehnya itu, butuh solusi nyata terhadap situasi yang dihadapi saat ini. Bukan hanya disandarkan kepada pemerintah semata sebagai pemangku kebijakan, namun seluruhnya harus terlibat, termasuk kita sebagai individu warga Indonesia.

Di bulan Ramadan ini, ada beberapa tips sederhana yang mungkin baik kita terapkan agar bisa terhindar dari menumpuknya sampah plastik, yakni sebagai berikut.

Pertama, niatkan untuk menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai ibadah kepada Allah SWT. Yakinlah, bahwa setiap kebaikan yang kita lakukan akan diberikan ganjaran kebaikan pula. Segala kebaikan dan perubahan di dunia ini harus diawali dengan niat yang kuat, sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi. Karena diniatkan sebagai ibadah, maka kita akan lebih mudah melakukannya. Bahkan bisa menjadi karakter yang akan terus dilakukan walau hanya seorang diri nantinya.

Kedua, jadikan Ramadan kali ini bukan hanya sekadar berpuasa menahan makan, minum, syahwat dan amarah, namun jauh daripada itu, kita juga berupaya untuk menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarang tempat. Terlebih lagi sampah yang berbahan plastik.

Sampah plastik berdampak buruk bagi lingkungan karena sifat plastik yang memang susah diuraikan oleh tanah meskipun sudah tertimbun bertahun-tahun. Dari berbagai sumber bahwa plastik baru bisa diuraikan oleh tanah setidaknya setelah tertimbun selama 200 hingga 400 tahun, bahkan lebih dari itu.

Selain itu, dengan proses yang susah diuraikan, sampah plastik juga dapat membunuh hewan pengurai tanah. Sehingga wajar saja apabila tingkat kesuburan yang dimiliki tanah berkurang. Dengan mengetahui fakta ini alangkah baiknya kita, selaku masyarakat Indonesia, menyadari bahwa penggunaan plastik sebenarnya tidak baik, apabila secara berlebihan dalam penggunaannya.

Ketiga, tanamkanlah dengan kuat ke dalam hati kalau kita berbuat baik kepada lingkungan, itu sama artinya bahwa kita telah berbuat baik kepada banyak orang. Bukankah, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat buat orang lain?

Keempat, Berupaya menghindari penggunaan bahan pelastik, walau sesungguhnya untuk menghindari secara keseluruhan itu mustahil di era sekarang ini. Karena hampir seluruh barang jualan yang kita beli, itu dibungkus dengan plastik. Namun, kita tetap berupaya untuk mengurangi penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari kita.

Dalam upaya mengurangi penggunaan bahan tersebut, silakan mencari alternatif lain. Misalkan, saat pergi berbelanja, biasakan membawa tas untuk ditempati barang-barang hasil belanjaan. Bukan hanya ramah lingkungan, sesungguhnya ini juga akan memudahkan kita nantinya dalam membawa pulang barang-barang tersebut. Begitupun kala berpergian atau berbuka puasa di luar rumah, silakan membawa botol air sendiri sebagai upaya mengurangi penggunaan botol atau gelas berbahan plastik.

Kelima, daripada berbuat sesuatu yang sia-sia saja selama puasa, mendingan kita belajar membuat kerajinan tangan yang bersumber dari bahan plastik bekas. Sekarang ini, informasi serta metode penggunaan plastik bekas menjadi kerajinan tangan sudah sangat mudah ditemukan di internet. Bahkan, tak jarang menjadi video viral di berbagai media sosial. Sebagai pengguna internet yang bijak dan kreatif adakalanya kita perlu belajar dari video-video singkat tersebut.

Dari kelima tips sederhana di atas, semoga bisa bermanfaat buat para pembaca. Setidaknya di bulan Ramadan kali ini, kita bisa bersama-sama saling berbagi informasi satu sama lainnya. Dengan itulah, keberadaan kita bisa dirasakan oleh orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *