Berita DaerahBerita Provinsi

Pertemuan Pengembangan Materi dan Isi Pesan Advokasi, Promosi, dan KIE

Pelaksanaan Advokasi, Promosi, dan KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi) yang menarik adalah pintu gerbang bagi perubahan perilaku masyarakat. Perubahan perilaku hanya terjadi jika isi pesan KIE menarik. Hanya KIE yang menarik dan disukai akan lebih mudah diingat. Hanya KIE yang menarik yang mendorong dan memotivasi khalayak umum atau masyarakat luas untuk berdiskusi. Dan, hanya mereka yang berdiskusi yang berpotensi mengadopsi perilaku baru yang kita (pemerintah) sarankan.

Demikian halnya dalam program Kependudukan, Keluarga Berencana, dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) dimana menuntut adanya KIE yang menarik, disamping tuntutan promosi atau kampanye yang luas melalui berbagai saluran media, baik media cetak, media elektronik, media online (media sosial), media tradisional, dan media luar ruang.

Hasil Survei Kinerja Akuntabilitas Program (SKAP) KKBPK Tahun 2018 menunjukkan bahwa Keterpaparan Masyarakat/Pasangan Usia Subur (PUS) akan informasi Kependudukan, KB, dan Pembangunan Keluarga, masih didominasi oleh Media Elektronik (terutama Televisi) yaitu berkisar antara 70 % – 90%. Hal ini mengindikasikan bahwa diperlukan adanya pengembangan bagi media dan materi atau isi pesan KIE yang dikampanyekan saat ini. Apakah media atau isi pesan yang kurang menarik atau memang pesan yang ada tidak sampai ke masyarakat luas.

Oleh karena itu, dilaksanakan Pertemuan Pengembangan Materi dan Isi Pesan Advokasi, Promosi, dan KIE Program KKBPK Tingkat Provinsi Sulawesi Barat, di Hotel Maleo Mamuju (28-30/4/2019). Peserta pertemuan berjumlah 40 (empat puluh) orang yang berasal dari Kasubid Advokasi/Penggerakan OPD-KB Kabupaten; Penanggung Jawab Media KIE DAK-BOKB Kabupaten; Penyuluh KB di Kampung KB; Penyuluh KB yang Memiliki Rumah Data; Ketua/Pengurus Forum Genre; dan Ketua BKR Kampung KB.

Kepala Perwakilan BKKBN Sulawesi Barat, Dra. Hj. Andi Ritamariani, M.Pd mengharapkan kepada seluruh peserta agar lebih mencermati kegiatan ini, sehingga setelah kembali ke daerah, sudah ada bahan atau konsep media dan isi pesan komunikasi, informasi, dan edukasi, sesuai dengan kearifan lokal kabupaten masing-masing. (nas)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *