Artikel

NILAI ANAK DALAM KELUARGA

Posted

NILAI ANAK DALAM KELUARGA

 

Oleh:

Dudi Fahdiansyah
Kepala Sub Bidang Bina Kesertaan KB Jalur Pemerintah dan Swasta

 

” Jangan paksa anakmu untuk menjadi seperti dirimu, karena mereka tidak terlahir di zamanmu. (Ali bin Abi Thalib) ”

 

Setiap orang tua pasti menginginkan kehadiran seorang anak sebagai penerus generasi. Kehadiran anak dalam sebuah keluarga merupakan anugerah besar bagi keluarga. Setiap orang tua bahkan selalu mendoakan agar memiliki anak karena anak dianggap sebagai amanah besar dari Tuhan Yang Maha Esa yang perlu dididik, dirawat dan diasuh dengan baik. Tanggung jawab yang besar itu selalu dinantikan oleh setiap orang tua. Bahkan pada beberapa kebiasaan masyarakat menganggap bahwa keluarga tanpa kehadiran seorang anak rasanya hampa dan selalu dikaitkan dengan rejeki. Maka tidak heran berkembang pameo “Banyak anak banyak rejeki”.

Anak merupakan pondasi yang paling besar dan mendasar bagi terbentuknya sebuah bangunan sosial. Apabila diletakkan dalam posisi yang benar, maka bangunan secara utuh akan bisa berdiri kokoh dan lurus kendatipun bangunan tersebut besar dan mencakar langit.

Dapat pula diibaratkan bahwa anak merupakan bibit tumbuhnya pohon generasi baru, yang darinya akan tumbuh cabang-cabang dan ranting-rantingnya. Jika selama ini kita hanya berasumsi bahwa anak hanya pelengkap keluarga, maka wajar jika dalam keluarga posisi anak tidak mendapatkan tempat utama yang akhirnya berpengaruh terhadap cara pandang orang tua terhadap kebutuhan anak.

Sebagai lembaga dengan basis programnya adalah keluarga, BKKBN hingga saat ini masih tetap konsen melakukan intervensi pada pembangunan keluarga dengan pendekatan program ketahanan keluarga. Hal ini sejalan dengan amanah Undang-Undang No.52 tahun 2009 pasal 47 ayat 1 Pemerintah dan pemerintah daerah menetapkan kebijakan pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Lebih lanjut pada pasal 48 ayat (1) point (a) Peningkatan kualitas anak dengan pemberian akses informasi, pendidikan, penyuluhan, dan pelayanan tentang perawatan, pengasuhan dan perkembangan anak.

Salah satu indikator keberhasilan pemerintah dalam program KB dapat dilihat dari angka kelahiran total/total fertility rate (TFR). Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan adanya penurunan dari 3,6 anak per wanita pada SDKI 2012 menjadi 2,7 anak pada SDKI 2017 di provinsi Sulawesi Barat.  Dengan TFR yang mengalami penurunan drastis, hal ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk membuat rencana strategi baru dalam upaya penurunan dari angka TFR yang ada.

Jumlah anak yang diinginkan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi TFR. Walaupun provinsi Sulawesi Barat sebagai penyumbang terbesar jumlah pernikahan di usia muda. Namun hal ini rupanya tidak terlalu mempengaruhi jumlah anak yang dilahirkan. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa kelahiran pada Pasangan Usia Subur (PUS) muda pun dapat ditekan dengan pemberian informasi yang masif kepada keluarga-keluarga yang ada.

Jumlah anak yang diinginkan sebenarnya bukan merupakan variabel langsung yang berhubungan dengan fertilitas, namun berhubungan dengan variabel yang memengaruhi salah satu variabel antara, yaitu pengaturan  kelahiran  (Davis  &  Blake,  1956). Menurut Singh et al.  (2010) banyak keluarga akan terus memiliki anak setelah mencapai ukuran keluarga yang diinginkan. Keputusan untuk memiliki sejumlah anak adalah sebuah pilihan, yang mana pilihan tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa hal.  Pertama, kunjungan petugas KB yang memberikan motivasi mengenai norma keluarga kecil bahagia sejahtera atau NKKBS (Suyono, Soedarmadi, & Noerdin, 2013). Kedua, kecenderungan orang tua dalam memaknai kehadiran anak (nilai anak).

Beberapa kajian yang dibuat oleh penggiat kependudukan menyampaikan bahwa jumlah jam kerja, status sosial ekonomi, dan usia menikah pertama istri berpengaruh signifikan terhadap jumlah anak yang diinginkan (Rahayu, 2009). Keluarga yang menganggap bahwa nilai manfaat anak lebih tinggi dibandingkan dengan nilai biaya anak, maka akan memiliki kecendrungan memiliki jumlah anak yang banyak (Bulatao & Lee, 1983).  Namun secara psikologis bahwa nilai anak (emosi) memiliki hubungan positif terhadap  jumlah  anak  yang diinginkan remaja di masa yang akan datang.

 

Konsep Nilai Anak

Konsep nilai anak tentu erat kaitannya dengan cara pandang keluarga terhadap anak yang akan menentukan pola-pola keluarga dalam menjalankan fungsinya. Hal ini juga erat kaitannya dengan kondisi masyarakat untuk dapat bertahan dalam kondisi seperti sekarang ini, seperti dikemukakan oleh Koentjaraningrat (1981) bahwa sistem nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat mengenai hal-hal yang mereka anggap bernilai dalam hidup, dan biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi individu dalam bertingkah laku.

Nilai anak adalah bagian dari nilai budaya dalam suatu masyarakat. Nilai anak merupakan suatu penilaian individu atau masyarakat terhadap arti dan fungsi anak dalam keluarga. Anak secara umum dianggap sebagai salah satu kebutuhan orang-tua, baik sebagai kebutuhan ekonomi, sosial maupun psikologis.

Arnold et al. (1975) dalam Hartoyo (2011) menyebutkan nilai anak sebagai nilai keseluruhan dari seorang anak yang terdiri dari nilai positif dan nilai negatif. Nilai positif merupakan kepuasan atau kegunaan yang dirasakan orang tua, sementara itu nilai negatif merupakan biaya atau beban yang ditimbulkan oleh keberadaan seorang anak. Manfaat/kepuasan dan biaya/beban tersebut tidak semata-mata aspek finansial (monetary), tetapi juga aspek sosial. Nilai anak dalam keluarga antara lain adalah nilai ekonomis, nilai psikologis, nilai sosial, dan nilai religius.

Nilai anak merupakan nilai yang diperoleh orang tua yang terdiri dari nilai positif (manfaat) dan nilai negatif (kerugian dan biaya) ketika memiliki anak (Buchori, 2011). Nilai positif dan negatif dari anak dapat diperoleh dari tanggapan orang tua terkait dengan: (1) Keuntungan atau  manfaat dari memiliki  anak, (2)  kerugian dari memiliki anak, (3) persepsi mengapa orang lain dalam masyarakat ingin memiliki anak, (4) alasan  menginginkan  anak  perempuan  dan anak  laki-laki,  (5)  intensitas  preferensi  anak laki-laki,  dan  (6)  alasan  ingin  jumlah  tertentu mengenai anak (Buripakdi, 1977).

Nilai anak adalah pandangan yang diberikan untuk anak dari orang tua yang mengacu pada kebutuhan orang tua untuk memiliki anak-anak. Kagitcibasi (dalam Sam, 2001), merangkum nilai anak menjadi tiga tipe yaitu nilai ekonomis yang berkaitan dengan kentungan materi dan rasa aman yang diberikan anak baik ketika anak masih muda maupun ketika anak dewasa, nilai psikologis yang berkaitan dengan kepuasan seperti kebahagiaan, kebanggaan, kasih sayang dan kebersamaan yang diberikan anak pada orang tua, dan nilai sosial yang mengacu pada pada penerimaan sosial yang didapatkan oleh pasangan yang menikah ketika memiliki anak. Nilai anak dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya adalah jumlah anak yang dimiliki orang tua.

 

Tipe Nilai Anak Sosial-Psikologis

Orang tua yang memiliki tipe nilai anak sosial-psikologis memandang bahwa orang tua memberikan pendidikan terbaik untuk anak karena hal tersebut telah menjadi kebutuhaan bagi anak yang harus dipenuhi, namun di sisi lain dengan memberikan pendidikan terbaik, anak diharapkan dapat menjadi penerus keluarga yang baik.

 

Tipe Nilai Anak Psikologis

Dalam pembangunan dan pembentukan nilai-nilai moral sebagai pedoman, untuk menumbuhkan identitas dirinya dalam berinteraksi di lingkungan sosial. Orang tua memandang anak merupakan anugerah Tuhan yang tidak ternilai dengan apapun, sehingga anak menjadi tempat orang tua untuk mencurahkan kasih dan sayang.

 

Tipe Nilai Ekonomis-Sosial-Psikologis

Tipe nilai selanjutnya adalah tipe nilai ekonomis-sosial-psikologis yang memandang bahwa anak merupakan nugerah Tuhan yang harus dirawat dan dididik dengan sebaik-baiknya, agar dapat menunjukkan martabat orang tua di masyarakat serta dapat meneruskan usaha keluarga dan merawat orang tua di masa depan.

 

Tipe Nilai Ekonomis-Psikologis

Tipe nilai terakhir yaitu tipe nilai ekonomis-psikologis yaitu orang tua memandang anak merupakan anugerah Tuhan yang harus dirawat dan diberi pendidikan yang terbaik sehingga dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan merawat orang tua di masa depan

Membangun sebuah keluarga yang dicita-citakan sejatinya bukan sebuah perkara mudah, akan banyak sekali hambatan-hambatan yang ditemui menuju ke arah itu. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mampu menerapkan fungsi-fungsi keluarga secara utuh dan berkesinambungan. Fungsi-fungsi tersebut diibaratkan sebagai satu kesatuan yang saling mempengaruhi dan saling mendukung satu sama lain sehingga keluarga dapat berjalan dengan baik. Setidaknya ada 8 (delapan) fungsi-fungsi keluarga menurut BKKBN, (1994:14) yaitu, fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi resproduksi, fungsi sosialisasi/pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi pemeliharaan lingkungan.

  1. Fungsi Agama

Pada hakekatnya pendidikan agama merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan kepribadian manusia. Dalam keluarga sangat perlu menanamkan nilai-nilai agama sedini mungkin pada anggota keluarga khususnya anak-anak, karena hal ini sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan budi pekerti dan kepribadian anak.

  1. Fungsi Sosial Budaya

Keluarga merupakan tempat membina dan mempersemaikan nilai luhur budaya bangsa, karena keluarga merupakan tempat yang sangat strategis untuk membina sikap dan perilaku anak-anak. Dengan demikian anak-anak dapat menilai baik buruknya budaya asing yang datang dari luar.

  1. Fungsi Cinta Kasih

Kasih sayang pertama diperoleh anak adalah di dalam keluarga. Sebab keluarga merupakan tempat membina rasa cinta dan kasih sayang antara anggota keluarga. Untuk itu kewajiban orang tua tidak terlepas pada pemenuhan materi saja tetapi juga perhatian dan kasih sayang.

  1. Fungsi Perlindungan

Keluarga harus memberikan rasa aman, nyaman, adil dan sejahtera bagi anggota keluarga. Untuk itu membina rasa kebersamaan dan berbagi suka dan duka adalah di dalam keluarga.

  1. Fungsi Reproduksi

Salah satu tujuan membangun keluarga adalah untuk menyalurkan kebutuhan seksual yang sehat dan baik, sehingga diharapkan akan memperoleh keturunan yang baik dan sehat pula. Fungsi ini merupakan dasar kelangsungan hidup masyarakat, untuk itu keluarga perlu menjaga pelaksanaan reproduksi yang baik dan sehat.

  1. Fungsi Sosialisasi/Pendidikan

Fungsi sosialisasi ini menunjukkan kepada peranan keluarga dalam membentuk kepribadian anak, sikap, tanggapan emosionil serta cita-cita dalam rangka mencari identitas diri atau jati diri karena itu keluarga disebut sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anak. Dalam hal ini melalui interaksi dalam keluarga, anak-anak mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap dan keyakinan dan nilai-nilai dalam masyarakat.

  1. Fungsi Ekonomi

Setiap keluarga memerlukan pemenuhan kebutuhan hidup fisik material yang layak untuk memenuhi kesejahteraan keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga dalam hal sandang, pangan dan papan.

  1. Fungsi Pemeliharaan Lingkungan

Dari keluarga dapat dibiasakan hidup sadar baik sosial maupun alam. Sebagai makhluk sosial manusia selalu hidup bermasyarakat atau berkelompok yang selanjutnya berkembang menjadi negara. Dengan demikian, keluarga merupakan wahana penanaman kebiasaan hidup bermasyarakat agar dapat menyesuaikan dengan kehidupan lingkungan

Demikian pentingya orang tua memahami nilai anak dalam keluarga, sehingga anak tidak sekedar dijadikan objek kebahagiaan orang tua akan tetapi harus menjadi bagian integral dalam perencanaan orang tua dalam membangun keluarga. Kehadiran sorang anak tidak sebatas dari hasil pemenuhan kebutuhan biologis semata, namun lebih jauh lagi anak merupakan bagian dari perencanaan keluarga jauh sebelum orang tua menikah. Jika semua keluarga memahami dengan baik tentang hal ini, maka tidak sulit rasanya untuk mewujudkan keluarga bahagia dan sejahtera.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. , Latifah, M & Mulyani, S.R. 2011. Studi nilai anak, jumlah anak yang diinginkan dan keikutsertaan orangtua dalam program KB. Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen, 4(1), halaman:37-45.
  2. Chaerani (2005). Menjadi Orang Tua Idaman. Jakarta: PT. Kompas Group.
  3. https://www.researchgate.net/publication/314387996_Nilai_Anak_dan_Jumlah_Anak_yang_Diinginkan_Pasangan_Usia_Subur_di_Wilayah_Perdesaan_dan_Perkotaan

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *