ArtikelBerita Provinsi

MEDIA TOP UNTUK KEPENDUDUKAN

(Kaprawi Rahman)

Salah satu kendala minimnya pengetahuan masyarakat tentang masalah dan isu kependudukan disebabkan minim dan sulitnya akses informasi yang mereka terima. Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang isu kependudukan berakibat kurangnya pula perhatian, kepedulian dan kesadaran tentang isu, masalah serta dampak yang ditimbulkan oleh permasalahan kependudukan. Agar penyebarluasan informasi kependudukan dapat terlaksana dengan baik, maksimal dan tepat sasaran maka tulisan ini akan mengkaji persentase sumber penerimaan informasi kependudukan yang diterima oleh masyarakat umum sehingga dapat memberikan gambaran tentang media manakah yang paling baik dan paling maksimal untuk digunakan dalam mensosialisasikan isu dan masalah kependudukan khususnya di Provinsi Sulawesi Barat. Sumber penerimaan informasi yang dimaksud diantaranya :

Sumber penerimaan informasi diatas ditampilkan melalui  grafik, data menggunakan hasil Survei Kinerja Akuntabilitas Tahun 2017, dengan melibatkan respoden Remaja 15-24 tahun belum Menikah dan responden Keluarga. Hasilnya terlihat dibawah ini:

Dari hasil analisis data SKAP 2017, ditampilkan pada (garafik 1.0) persentase remaja mengetahui informasi kependudukan mayoritas melalui televisi sebesar 86.8 persen, sementara paling rendah adalah Banner 3,1 persen. Dengan demikian dapat dikatakan sumber yang paling baik dan tergolong maksimal dalam menyampaikan pesan terkait isu dan permasalahan kependudukan untuk sasaran remaja yaitu melalui media televisi. Walaupun demikian media lain tak boleh diabaikan sebab juga memberi dukungan terlihat dari pilihan responden yang cukup baik seperti, website/internet 41,6 persen, spanduk 31,7 persen, poster 31,7 persen, billboard/baligho 24.5 persen dan melaui koran 23,8 persen. Sementara media yang tergolong minim memberikan kontribusi adalah radio, pamflet/brosur, majalah/tabloid, Mupen KB, pameran, mural/gravity, lembar balik, dan banner. Minimnya media tersebut memberikan kontribusi menggambarkan bahwa remaja kurang berminat atau kurang menggunakan media tersebut.

Masih pada remaja, (grafik 1.1) memberi informasi bahwa 77,9 persen remaja menerima dan mengetahui informasi terkait kependudukan melalui guru. Selain itu para remaja pun banyak menerima dan mengetahui informasi kependudukan melalui tokoh masyarakat dengan 43,9 persen kemudian bidan/perawat 24,2 persen dan  perangkat desa 17,6 persen. Kemudian remaja paling minim menerima informasi kependudukan melaui petugas PLKB/PKB 6,1 persen dan PPKBD/Sub PPKBD 5,9 persen. Berdasarkan gambaran diatas sangatlah tepat apabila pembentukan pojok kependudukan di tingkat pendidikan formal baik ditingkat SMP,SMU dan perguruan Tinggi dilaksanakan. Pembentukan pojok kependudukan setingkat desa atau dusun sangatlah dimungkinkan karena kita tahu bersama bahwa remaja di Provinsi Sulawesi Barat masih banyak yang tidak mengenyam pendidikan, kemudian memaksimalkan pula peran tokoh masyarakat dalam pembinaan remaja.

Persentase keluarga mengetahui informasi kependudukan melalui media terlihat pada (grafik 2.0) adalah melalui televisi 82,8 persen. Media tersebut sama dengan hasil pada (grafik 1.0) yaitu masing-masing menampilkan televisi sebagai media yang tertinggi dalam memberikan kontribusi penyebar luasan informasi kependudukan kemasyarakat. sementara itu responden keluarga juga banyak menerima informasi kependudukan melalui media spanduk 21 persen, poster 18,1 persen, koran 15,3 persen, billboard/baligho 13,8 persen dan radio 10.7 persen. Sementara website/internet, majalah/tabloid, Mupen KB, pamflet/brosur, pameran dan lembar balik tergolong media atau sumber yang memberikan informasi kependudukan kepada responde dibawah 9 persen.

Untuk Persentase keluarga mengetahui informasi kependudukan melalui petugas terlihat pada (grafik 2.1) adalah tokoh masyarakat 62.8 persen dipilih oleh responden sebagai sumber tertinggi pemberi informasi terkait kependudukan sementara yang kurang maksimal memberikan informasi kependudukan adalah petugas PPKBD dan Sub PPKBD. Lalu bidan/ perawat dipilih sebagai sumber kedua atau 41.2 persen pemberi informasi kependudukan, lalu petugas perangkat desa 37 persen dan tokoh agama menjadi sumber keempat yang dipilih oleh responden 24,7 persen sebagai pemberi informasi, sedangkan PLKB/PKB dipilih responden sebagai sumber pemberi layanan informasi kependudukan sebanyak 17,7 persen. Sebagai Saran adalah, (1) Penyebaran informasi terkait kependedudukan sebaiknya menggunakan media televisi namun media lain yang cukup menunjang dan mendukung program kependudukan tidak bisa diabaikan begitu saja, (2) Penggunaan media sekiranya dapat disesuaikan dengan sasaaran isu kependudukan, (3) Memaksimalkan pembentukan pojok kependudukan atau menyusun pola pengembangan untuk lebih memaksimalkan program pojok kependudukan, (4) Memanfaatkan peran petugas tokoh masyarakat, toko agama dan tokoh adat dalam membantu mensosialisasikan isu kependudukan, (5) Memaksimalkan peran petugas KB dilapangan dengan metode menyampaikan pesan kependudukan pada setiap penyuluhannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *