Artikel

KB ADALAH SEBUAH KEBUTUHAN

Posted
(Refleksi Hari Kontrasepsi Sedunia, 26 September 2019)
Oleh:
Nasrullah 
(Kasubid Penggerakan, Advokasi, dan KIE)

 

Setiap tahun, tanggal 26 September diperingati sebagai Hari Kontrasepsi Sedunia (World Contraceptive Day). Tahun ini mengusung tema “Meningkatkan Pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi Guna Mencapai Indonesia Sehat”. Sekilas, tema ini mensyaratkan pesan yang mendalam tentang arti dan pentingnya perilaku hidup sehat bagi seluruh rakyat Indonesia, salah satunya melalui peningkatan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi yang berkualitas dan merata. Paling tidak, bisa dipahami, bahwa program keluarga berencana merupakan salah satu program pemerintah dalam menurunkan angka kelahiran, angka kesakitan, dan angka kematian ibu, bayi, dan anak.

Dalam konteks legislasi, keluarga berencana adalah upaya untuk mengatur kelahiran anak, jarak dan usia ideal melahirkan, dan mengatur kehamilan melalui promosi, perlindungan dan bantuan sesuai dengan hak reproduksi untuk mewujudkan keluarga berkualitas. Sementara itu, kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi.

Kesemua ini menunjukkan bahwa pendekatan program pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi saat ini, telah mengarah pada pendekatan berbasis kualitas (quality base approach). Tuntutan kualitas di satu sisi adalah potret sebuah keniscayaan, namun menjadi tantangan yang amat berat dalam era desentralisasi kesehatan atau era jaminan kesehatan nasional, pada sisi yang lain.

Aspek kualitas pelayanan keluarga berencana disebut sebagai keniscayaan, sebab menurut John C. Caldwell (1982) yang dikenal sebagai Bapak Demografi Australia, dalam bukunya “Theory of Fertility Decline”, menyatakan bahwa telah terjadi perubahan perilaku melahirkan di tengah-tengah masyarakat, sebagai salah satu akibat dari pengaruh modernisasi dan gaya hidup (life style).

Lebih lanjut, Caldwell menjelaskan sejarah zaman dulu dimana aliran kekayaan mengalir dari anak ke orang tua (anak sebagai tenaga kerja yang menguntungkan, terutama di daerah pertanian/agraris, seperti Indonesia), kini menjadi terbalik, dimana aliran kekayaan mengalir dari atas (orang tua) ke anak, karena orang tua cenderung lebih mementingkan kualitas anak-anaknya di masa mendatang. Tentunya, dalam jangka panjang, ini meringankan beban pemerintah dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar, seperti kebutuhan pangan, sandang, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan lain-lain.

Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan pola pikir dan perubahan kebutuhan akan pelayanan keluarga berencana di masyarakat, baik pada ukuran keluarga yang ideal (ideal family size) maupun norma keluarga kecil itu sendiri, yang tentunya harus terpenuhi dan sesuai dengan kebutuhan keluarga masa kini (millenial).

 

Unmet Need

Salah satu konsekuensi logis yang harus dipahami dari perubahan ini adalah fenomena unmet need yang masih menjadi tantangan yang tidak ringan dalam mewujudkan pelayanan KB yang berkualitas di Indonesia. Unmet need adalah indikator kebutuhan ber- KB yang tidak terpenuhi. Variabel ini menggambakan jumlah pasangan usia subur (PUS) usia 15-49 tahun yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin anak ditunda, tetapi tidak menggunakan kontrasepsi karena tidak terlayani atau tidak terjangkau oleh fasilitas kesehatan masyarakat.

Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan bahwa secara nasional, angka unmet need sebesar 11,4% pada 2012 atau sedikit menurun menjadi 10,6% pada 2017. Artinya, jika dikonversikan dengan jumlah PUS saat ini yang mencapai 51 juta, maka hampir 5,5 juta pasangan yang membutuhkan KB belum terlayani. Fenomena unmet need KB, sebenarnya bersifat multi dimensional, karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti karakteristik demografi, sosial ekonomi, sikap, akses, dan kualitas pelayanan. Salah satu alasan utama kebanyakan orang tidak ingin ber-KB adalah masalah kesehatan dan takut efek samping (detiknews, 2019).

Adioetomo (2009) menyatakan, bahwa sebab-sebab yang sering disampaikan oleh para perempuan unmet need adalah faktor kesehatan, kenyamanan memakai alat kontrasepsi, kemiskinan ataupun penolakan dari suami atau lingkungan sekeliling. Di samping tidak terlayani karena faktor akses dan kualitas pelayanan KB, baik di rumah sakit, puskesmas dan jejaringnya, dokter praktik swasta, bidan praktik swasta, atau klinik KB yang belum merata dan berkualitas baik, juga disebabkan oleh masih banyaknya keinginan PUS untuk hamil lagi, serta tingginya tingkat kelahiran pada kelompok wanita umur 15-19 tahun.

 

Teori Maslow

Dalam memahami program KB sebagai sebuah kebutuhan, dimana terlihat jumlah unmet need yang cukup tingi, dapat diasosiasikan pada teori psikologi yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow dalam makalahnya,”A Theory of Human Motivation”, di Psichological Review pada tahun 1943. Konsep yang dikenal dengan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow ini, beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan manusia di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu, sebelum kebutuhan- kebutuhan di tingkat lebih tinggi.

Lebih lanjut, Maslow menyebutkan ada lima tingkat kebutuhan dasar manusia yang digambarkan sebagai sebuah hierarki atau tangga yang menggambarkan tingkat kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang, kebutuhan akan penghargaan, dan kebutuhan akan aktualisasi diri (id.m.wikipedia.org, 2019).

Dari sini, penulis menganggap bahwa kebutuhan ber-KB dapat dikategorikan sebagai kebutuhan akan kasih sayang. Oleh karena itu, dalam era millenial saat ini, dimana setiap orang, terutama pada kelas menengah ke atas, senantiasa butuh penghargaan dan aktualisasi diri, maka menjadi hal yang cukup berat bagi pelaksana program KB lini lapangan, bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat dan keluarga akan pelayanan KB yang berkualitas !

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *