Artikel

KAJIAN PROBLEMATIKA REMAJA SULAWESI BARAT

Kaprawi Rahaman, S.Pd
Peneliti Perwakilan BKKBN Prov. Sulbar

 

Generasi muda adalah tonggak keberlangsungan masa depan Indonesia, mereka laksana sinar matahari yang akan memberikan warna bagi masa masa depan bangsa. Oleh karena itu, menjaga mereka agar tidak terpengaruh oleh bahaya berbgaia ancaman adalah kewajiban semua pihak. Berbicara masalah remaja tidak pernah akan ada habisnya, baik remaja sebagai obyek, pelaku ataupun sebagai subyek. Remaja sering diposisikan sebagai problem, posisinya sebagai potensi dan bagian dari solusi sering ditenggelamkan oleh wacana remaja sebagai masalah. Isu dan pemberitaan tentang remaja sangat ramai kita lihat dimana-mana, pertanyaanya adalah bagaimana sebaiknya kita menggerakkan remaja sebagai potensi dan sebagai bagian dari solusi.

Dibanyak negara anak atau remaja diakui sebagai subyek harus dihormati oleh negara-negera maju. Di Indonesia sedang dirintis untuk mendirikan parlemen anak atau remaja, jadi anak bisa menyumbangkan pemikiran-pemikiran mereka tentang masa depan bangsa sehingga remaja juga aktif terlibat menentukan masa depan mereka. Generasi muda adalah tulang punggung Bangsa dan Negara merupakan istilah yang sering kita dengar sehari-hari. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkungan sosial saat ini memerlukan panutan dan contoh yang dapat membawa masyarakat kita ke arah yang lebih baik. Terlebih lagi di era modernisasi saat ini, generasi muda dituntut untuk lebih berpartisipasi dalam membangun masyarakat Indonesia.

Lalu bagaimana dengan remaja di Provinsi Sulawesi Barat?. Sebelumnya Provinsi Sulawesi Barat adalah Provinsi hasil pemekaran dari Sulawesi Selatan. Jumlah penduduknya kurang lebih 1.330.190 Juta jiwa dengan komposisi 41,65 % penduduknya adalah usia dibawah 19 tahun (Profil Kesehatan Provinsi Sulbar Proyeksi Penduduk Sulawesi Barat tahun 2017). Lalu bedasarkan perhitungan BPS 2016-2018 jumlah kelompok umur 10-24 tahun adalah 381.183 jiwa atau 29,3 % dari total penduduk Sulbar .

Pada tulisan ini akan mengkaji keadaan atau kondisi remaja pada Provinsi yang dikenal dengan sebutan Malaqbi. Kajian ini didasarkan oleh beberapa studi literatur yang dianggap relevan, sehingga menghasilkan sebuah gambaran kondisi remaja yang ada saat ini dengan menggunakan narasi deskriptif. Dari hasil kajian, remaja Sulawesi Barat diketahui ada 4 point yang menjadi topik utama diantaranya adalah Pernikahan Dini, Tingkat Pendidikan, Seksualitas dan Narkoba. Walaupun masih banyak problem seperti tawuran dan kriminalitas lainnya namun yang lebih dominan adalah ke emapat hal tersebut dan akan dijelaskan sesuai temuan yang didaptkan dari berbagi sumber.

  1. Pernikahan

Revisi Undang-Undang Republik Indonsia No.1 tahun 2017 Bab I Pasal 1 adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha Esa. Bab II Pasal 7 ayat 1 Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria dan wanita masing-masing sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun. Pada 12 April 2018 Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP-PA) Republik Indonesia (RI), Yohana Yombise, saat berkunjung ke Sulawesi Barat menuturkan bahwa Provinsi Sulawesi Barat masih menempati urutan pertama dalam kasus pernikahan dini di Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan jika kita melihat data Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat tahun 2015 merilis ada 11,58 persen anak menikah pada usia di bawah 16 tahun. Hal tersebut bukan tanpa alasan, melirik survei nasional berbasis rumah tangga pada tahun 2015, Provinsi Sulawesi Barat ditemukan 1 dari lima perempuan usia 20–24 tahun sudah menikah sebelum berusia 18 tahun atau Sebanyak 21% perempuan menikah sebelum berusia 18 tahun.

Diketahui 1dari 5 perempuan usia 20–24 tahun sudah menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun, rata-rata perkawinan anak sebesar 37 persen, perkawinan anak sebelum umur 18 tahun mencapai 34.2 persen. Wanita usia subur sebesar 38,7 persen menikah di umur 15-19 tahun dan diantaranya 7,6 persen melangsungkan pernikahan di usia 10-14 tahun. Pernikahan usia remaja antara umur 15-19 tahun mencapai 49,6 persen. Lalu Hasil yang sama pada laporan BPS tahun 2016 analisis data perkawinan anak dan Pendataan Keluarga oleh Perwakilan BKKBN Povinsi Sulbar tahun di tahun 2017 menempatkan Sulawesi Barat menjadi provinsi dengan angka pernikahan dini tertinggi di Indonesia dengan perkawinan anak sebelum umur 18 tahun mencapai 37 % dan 34.2 % dan Badan Pusat Statistik Sulawesi Barat tahun 2015 juga merilis data bahwa ada 11, 58 Persen remaja wanita di Sulawesi Barat menikah dibawah usia 16 tahun, memiliki prevalensi terbesar di Indonesia untuk anak perempuan yang menikah di bawah usia 15 tahun.

Menikah terlalu muda atau pernikahan dini tentulah menimbulkan berbagai macam persoalan, diantaranya cenderung pelakunya mengalami putus sekolah sehingga memperoleh tingkat pendidikan yang rendah, status sosial yang menurun atau sub ordinasi dalam keluarga, hilangnya hak kesehatan reproduksi, tingginya peluang kematian ibu akibat melahirkan di usia muda, salah satu faktor dari penyebab bayi/anak stunting, tingginya angka kematian bayi hingga kekerasan dalam rumah tangga.

  1. Pendidikan

Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak peserta didik, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Kemudian menurut Martinus Jan Langeveld, pengertian pendidikan adalah upaya menolong anak untuk dapat melakukan tugas hidupnya secara mandiri supaya dapat bertanggung jawab secara susila. Lalu menurut UU No. 20 Tahun 2003, pengertian pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar pesertadidik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Jadi, secara singkat pengertian pendidikan adalah suatu usaha dalam bentuk pembelajaran kepada peserta didik agar memiliki pemahaman dan keterampilan terhadap sesuatu, menjadi seorang manusia yang baik serta mampu kritis dalam berpikir.

Dari hasil pemutahiran data Pendataan Keluarga Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat tahun 2015 jumlah jiwa dalam keluarga berdasarkan tingkat pendidikan dari 1.215.139 jiwa, terdapat 125.114 jiwa (12,13%)  tidak tamat SD, kemudian 282.810 jiwa (27,42%) berpendidikan hanya tamat SD, lau berpendidikan tamat SMP 115.220 (11,17%) serta sejumlah 183.659 jiwa (15,11%) tidak bersekolah. Terlihat dari data tersebut banyak responden dengan status tidak bersekolah, tidak tamat SD dan  hanya mampu tamat SD sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan khususnya dalam keluarga masih sangat rendah. Dengan problem rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya angka putus sekolah akan berdampak pada kemampuan masyarakat dalam menerima perkembangan ataupun kemajuan teknologi informasi. Tingkat pengetahuan  masyarakat akan jauh tertinggal yang secara langsung sangat mempengaruhi kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelaksanaan pembangunan di Provinsi ini.

  1. Narkoba dan Seksualitas

Berbicara permasalahan remaja adalah berbicara tentang suatu hal atau persoalan yang hampir kompleks dan mengkhawatirkan. Banyak terlihat dengan jelas fenomena remaja yang cendrung terlibat dalam tindak kriminal, penyalahgunaan obat-obatan sampai dengan menjadi korban dari perilaku menyimpang. Ketidak tahuan dan besarnya rasa keinginan yang selalu ingin mencoba hal yang baru kerap kali membuat mereka tidak berpikir panjang lalu banyak diantara mereka yang terjerumus dalam hal yang negatif. Besarnya pengaruh pola pergaulan dan lingkungan yang kurang baik akan sangat memberikan efek terhadap pembentukan sikap dan karakter mereka. Dikehidupan sehari-hari sering kita lihat atau jumpai ancaman penyalahgunaan Narkoba dan pola pergaulan  seks bebas merupakan dua hal yang sasaran korbannya adalah remaja. Pengetahuan yang kurang, rasa ingin mencoba, mudah terprovokasi serta kurangnya pengawasan membuat mereka kerap salah arah terjemerus pada hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang banyak. Tak heran jika remaja merupakan sasaran empuk dari berbagai macam ancaman.

Penyalahgunaan narkoba kerap dekat dengan kehidupan para remaja dan termasuk didalamnya adalah remaja di Provinsi Sulawesi Barat. Bagaimana tidak peredaran gelap narkotika tergolong masih tinggi dengan pelaku dan sasarannya adalah remaja. Terlihat dari data Pusdatim Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan Universitas Indonesia, Sulawesi Barat menempati urutan ke-18 tingkat penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba dari 34 provinsi dengan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba sebesar 1,70 persen dari total penduduk Sulbar sejumlah 16,269 orang pada kelompok usia 10 – 59 tahun.

 Selain Narkoba remaja Sulawesi Barat juga dekat dengan perilaku seks bebas atau melakukan hubungan seks diluar nikah yang secara agama dan adat istiadat tentulah merupakan perilaku yang sangat bertentangan. Hasil Survei Kinerja Akuntabilitas Program KKBPK tahun 2017 dan tahun 2018, terlihat sebanyak 2.5 persen remaja perempuan dan sebanyak 6.8 persen remaja laki-laki mengaku pernah pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Persentase pernah melakukan hubungann seksual sebelum menikah bagi remaja perempuan maupun laki- laki semuanya diatas rata-rata nasional yakni remaja perempun sebesar 1,7 persen dan remaja laki- laki sebesar 5.3 persen. Ditemukan pula di Sulawesi Barat pada remaja perempuan dan remaja laki-laki usia 14-19 tahun yang mengaku mempunyai teman pernah melakukan hubungan seksual pra nikah masing-masing mencapai 34,7 persen dan 30,9 persen, lalu remaja perempuan dan laki-laki usia 20-24 tahun yang mengaku mempunyai teman pernah melakukan hubungan seksual pra nikah, masing-masing mencapai 48,6 persen dan 46,5 persen.

 

Sumber Referensi:

Buku

Adriani Adam, Irma Muslimin, Kaprawi Rahman. (2018). Kajian Stunting Ditinjau dari Sudut Pandang Usia Kawin Pertama Di Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat. In CV Antero Literasi Indonesia (Vol. 1).

Dra. Maria Anggraeni MS, D. (2017). Survei Indikator Program KKBPK 2017.

Desy Nuri Fajarningtiyas. (2018). Survei Kinerja Akuntabilitas Program KKBPK  Tahun 2018.

Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat. (2017). Profil Kependudukan 2017.

 

Jurnal

Maju, J. I., & Rahman, K. (2018). Pernikahan Dini Jembatan Menuju Perceraian Study Kasus Kecamatan Wonomulyo Dan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Maju Provinsi Sulawesi Barat, 1.

Sukardi. (2018). PACARAN DAN PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI PROVINSI SULAWESI Barat. Maju Provinsi Sulawesi Barat, 01, 1–7. Retrieved from Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Provinsi Sullawesi Barat (jurnal maju Vol.1 No.2 2018)

 

Lain-lain

Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. (2018). Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat. Retrieved June 23, 2018, from https://sulbar.bps.go.id/quickMap.html

BAPENNAS, & UNICEF. (2017). Laporan Baseline SDG tentang Anak-anak di Indonesia (SDG Baseline Report on Children in Indonesia). Retrieved from https://www.unicef.org/indonesia /id/SDG_Baseline_report.pdf

Kemenkes. (2019). Pusat Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2018. Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan 2019.

Maxmanroe. Pengertian Pendidikan, Defenisi, Tujuan dan Jenis Pendidikan. https://www.maxmanroe. com/vid/umum/pengertian-pendidikan.html

Nurhadi, & Tribun-Timur.com. (2017). Wah, Pernikahan Remaja 16 Tahun Heboh di Polman Sulbar. Retrieved February 25, 2019, from Tribun-Timur.com website: https://makassar.tribunnews.com /2017/11/26/wah-pernikahan-remaja-16-tahun-heboh-di-polman-sulbar

Nurhadi, & Tribun-Timur.com. (2019). BNNP Harap Perda Pemberantas Narkotika Sulbar Tak Hanya Indah di Atas Kertas. Retrieved February 20, 2019, from Tribun-Timur.com website: https://makassar.tribunnews.com/2019/01/21/bnnp-harap-perda-pemberantas-narkotika-sulbar-tak-hanya-indah-di-atas-kertas

Statistik, B. P. (2013). Effect of acetylcholine on Na, K-ATPase of brain microsomes from rats of different ages. In Bulletin of Experimental Biology and Medicine (Vol. 90). https://doi.org/10.1007/BF00830441

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *