Artikel

HARUSNYA STUNTING TAK PUNYA TEMPAT DI INDONESIA

Kaprawi Rahman, S.Pd
Peneliti Perwakilan BKKBN Sulbar

Indonesia dapat dikatakatn darurat gizi buruk. dalam catatan Organisasi kesehatan dunia (WHO) sebanyak 7,8 juta dari 23 juta balita Indonesia mengalami terjadinya gangguan pertumbuhan pada anak atau stunting akibat gizi kurang. Fakta ini sekaligus menempatkan Indonesia dalam lima besar negara dengan kasus stunting terbanyak di dunia. Stunting menjadi cerminan betapa buruk dan kurang optimalnya gizi yang seharusnya diberikan kepada anak. Stunting tidak cuma membuat bayi menjadi kuntet (pendek) namun dapat mendagradasi kecerdasan otak,. Dokter anak subspesialisasi gizi metabolik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia “Stunting adalah persoalan besar. Gizi buruk tak sekadar menjadikan bayi kuntet, IQ rendah, namun bisa menyebabkan hilangnya generasi berkualitas dan membuat daya saing bangsa menurun lantaran tak lagi memiliki generasi cerdas bermental pemimpin,”.

Kepala Staf Kepresidenan Jendral TNI (Purnawirawan) Dr. Moeldoko, SIP  pada seminar strategi penurunan stunting 29 Agustus 2019 “Berbicara stunting adalah berbicara masa depan masyarakat Indonesia. Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling disorot di Indonesia sebab tahun 2013 riset menunjukkan prevelensi balita stunting di Indonesia mencapai angka 37,8 persen dan angka ini sama dengan kejadian balita stunting di Ethiophia. Walaupun di tahun 2019 angka stunting di Indonesia mengalami penurunan menjadi 27,67 persen hasil Studi (Kemenkes, 2019)Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) namun kejdian tersebut diangap masih cukup tinggi. Dari hal tersebut kita dapat beranggapan bahwa kejadian stunting adalah sebuah hal yang sangat serius dan perlu penangan dari pemerintah maupun oleh semua pihak.

Dari data yang telah disebutkan mecerminakan betapa seriusnya kejadian stunting yang terjadi di Indonesia. Kita tahu bersama bahwa stunting adalah persoalan yang dapat merenggut masa depan para generasi bangsa. Dikutip dari situs Kemenkes, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada tubuh dan otak akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga, anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. Kekurangan asupan gizi, mineral dan sumber protein hewani dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai awal kehidupan anak (1.000 Hari Pertama Kelahiran). Dapat kita bayangkan besarnya dampak yang akan ditimbulkan bagi bangsa ini jika kasus stunting tidak ditangani secara serius.

Pertanayaan lalu muncul, apakah stunting merupakan penyakit atau bukan?.

Para pakar banyak berpendapat bahwa stunting bukan penyakit dan salah satu penulis Buku Kajian Stunting Ditinjau dari Usia Kawin Pertama (Irma Muslimin) menyatakan bahwa stunting bukanlah penyakit melainkan masalah kesehatan terutama pada persoalan gizi. Kejadian stunting pada ada terjadi jika buruknya asupan makanan bergizi, vitamin dan mineral dan sumber protein hewani terjadi sejak janin dalam kandungan sampai anak lahir kemudian berlanjut dalam waktu lama sehinnga kekurangan gizi. Jadi dapat kita asumsikan bahwa bayi atau anak pendek belum tentu stunting dan anak yang stunting sudah tentu anak itu pendek. Bayi pendek terdapat banyak faktor penyebabnya namun stunting sudah tentu penyebabnya hanya satu yakni buruknya asupan atau pemberian gizi.

Kemudian pertanyaan kedua adalah kalau bukan penyakit mengapa tidak bisa di kembalikan atau disembuhkan seperti anak normal lainnya?.

Untuk hal ini Menurut dokter spesialis anak konsultan nutrisi dan penyakit metabolik pada anak Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia spesialis, dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) menuturkan bahwa ketika anak stunting berusia di atas dua tahun, penyembuhannya akan lebih sulit. Sebab, terdapat penanganan khusus yang dibutuhkan oleh mereka yang membuat para dokter harus bekerja lebih keras terlebih jika terdapat permasalahan pada asupan makanan. Tetapi, kalaupun anak tersebut membaik, baik dari segi tinggi badan dan berat badan, dia tidak mampu menyamai ukuran anak sebayanya. Sebab, kemampuan IQ anak yang stunting sudah tertinggal jauh dari anak seusianya.

Lalu pertanyaan ketiga adalah berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) 2016 ditemukan sebanyak 21,7% anak yang kategori stunting usia dua tahun kebawah (Baduta) jika tidak dapat disembuhkan maka bagaimanakah nasib mereka?

Masih Menurut dr. Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) pada 1.000 hari pertama kehidupan masih snagat susah untuk dikoreksi atau diperbaiki. Tergantung bagaimana orangtua memaksimalkan asupan nutrisinya. “Saat kita bayi tubuh yang mengalami pertumbuhan adalah bagian torso atau batang tubuh, satu tahun keatas baru bagian kaki. saat pubertas  bagian kaki tumbuh kembali,”. Dengan begitu, bila anak terlanjur stunting masih ada harapan saat masa puberitas. Pada masa anak memasuki puberitas orangtua harus perhatikan tidak hanya asupan nutrisinya, tapi juga aktifitas dan waktu tidurnya. “Selain makanan, yang harus diperhatikan agar hormon pertumbuhan anak bekerja dengan maksimal adalah aktifitas dan waktu tidur. Semakin banyak aktifitas fisik, hormon pertumbuhan anak akan bekerja dengan baik,” hormon pertumbuhan bekerja adalah pada pukul 12 sampai 1 malam dan ia hanya bekerja saat seseorang dalam kondisi tidur nyenyak.

Sementara Mantan Deputi Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Kemko PMK Rachmat Sentika menuturkan bahwa untuk penderita stunting memerlukan asupan yang tidak memerlukan pencernaan dari enzim sehingga dapat pulih dalam waktu seketika. Menurutnya jika terjadi keadaan perlambatan pertumbuhan pada anak dan bayi, maka perlu diterapkan diet dan ketersediaan pangan khusus seperti formula 75 dan formula 100 termasuk edukasi cara membuatnya, hingga kemudahan mendapatkannya di pasaran. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa anak yang terlanjur stunting dibawah usia 1.000 hari pertama kelahiran masih dapat dilakukan usaha untuk membantu anak yang telah terlanjur stunting pulih kembali namun hasilnya tetap tidak akan sama dengan anak yang tumbuh normal.

Pertanyaan keempat yaitu pemerintah saat ini tengah gencar dalam melakukan penanganan pencegahan stunting, apakah ada program pemerintah dalam pengobatan anak yang kategori stunting?

Sejumlah langkah yang akan dan telah dijalankan pemerintah untuk mencegah stunting di lingkungan masyarakat adalah dengan lebih memfokuskan program pemberian makanan tambahan di daerah-daerah yang memiliki angka stunting yang tinggi. Beberapa Provinsi dan Kabupaten yang dijadikan prioritas yang mempunyai angka balita stunting tertinggi, seperti di Sulawesi Tengah, NTT, Bali, hingga Papua. Anggota UKK Nutrisi dan Penyakit Metabolik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pengentasan stunting yang krusial di Indonesia sekarang ini dapat dilakukan dengan cara menekan peningkatan kasus stunting, memantau pertumbuhan bayi dan balita, hingga melakukan terapi untuk bayi yang membutuhkan.

Untuk mengatasi stunting dilakukan secara terstruktur. Pemerintah menyamakan persepsi antara lembaga negara, kemudian melibatkan industry. Menyatukan langkah untuk mencari solusi, termasuk mencari cara untuk mengantisipasi agar masalah ini tidak berulang. Keputusan Kepala BPOM Nomor 1/2018 tentang olahan pangan untuk gizi khusus yang memungkinkan intervensi racikan khusus untuk gizi buruk. Hal ini merupakan terobosan besar yang memungkinkan solusi tercepat dalam hal pengatasan gizi buruk di Tanah Air. Industri harus diundang untuk terlibat memproduksi solusi untuk gizi buruk agar bisa mengatasi dengan segera persoalan stunting di Indonesia. Pemerintah harus mengambil kendali untuk melibatkan seluruh pihak khususnya industri agar tergerak menyelesaikan persoalan stunting.

Mantan Deputi Kesejahteraan dan Perlindungan Anak Kemko PMK Rachmat Sentika menyampaikan ketersediaan pangan khusus untuk keperluan intervensi ketika mulai terlihat  perlambatan pertumbuhan dan sudah selayaknya bisa masuk dalam sistem jaminan kesehatan nasional sebab pangan khusus tersebut bukan semata susu formula melainkan asupan sumber pangan yang telah diracik khusus sebagaimana diatur WHO dan Codex Alimentarius.

Sejenak kita teringat sebuah lagu milik Koes Plus berjudul “Kolam Susu” yang beberapa kalimatnya adalah “ Bukan lautan hanya kolam susu, kail dan jala cukup menghidupimu, ikan dan udang menghampiri dirimu, tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Gambaran lagu koes plus memberikan pesan bahwa Negara kita adalah Negara yang begitu  kaya dan istimewah. Sebagai orang yang awam tentang stunting banyak masyarakat bertanya mengapa stunting bisa terjadi dinegara yang dikenal surga dunia, Negara yang begitu kaya melimpah hasil alam dan lautnya, melimpah sumber nabati, hewani, mineral dan lainnya. Ikan, Sayuran, udang, kepiting dan daging lainnya adalah makanan kita sehari-hari, menu tersebut hampir tiap hari tersedia dan tersaji dimeja makan.

Jika kita pikir secara logika mustahil Indonesia masyarakatnya terkena Stunting, apalagi kategori dengan asupan gizi buruk yang terjadi dengan waktu yang panjang. Apakah menu makanan yang tiap hari dikomsumsi tidak bermanfaat bagi tubuh anak-anak kita. Mirisnya lagi Stunting menjadi salah satu masalah kesehatan yang paling disorot di Indonesia sebab balita Stunting di Indonesia mencapai angka 37,8 persen dan angka ini sama dengan kejadian balita Stunting di Ethiophia. “Bayangkan saja” Negara yang menjadi sumber penghasil nutrisi dan protein memiliki kasus Stunting yang sama dengan di Ethopia. Seharusnya di Negara kita Stunting tak punya tempat sedikitpun sebab kita adalah Negara yang begitu melimpah kekayaan alamnya, melimpah sumber protein, nutrisi dan nabainya. Namun kenyataanya kasus dan kejadian stunting terjadi cukup besar di Negara Indonesia.

Jika kita melihat data berdasarkan Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), rata-rata konsumsi protein penduduk Indonesia tahun 2015 sudah melebihi anjuran (58,6 gram). Demikian pula ketersediaan protein yang dirilis oleh Badan Ketahanan Pangan, Kementerian Pertanian pada tahun 2014 sudah mencapai 87,04 gram/kapita/hari. Hanya saja tingkat partisipasi konsumsi pangan hewani yang tinggi adalah ikan dan telur, diikuti daging unggas terutama dari ayam ras namun partisipasi konsumsi daging sapi tergolong rendah hanya 8,2%. Lalu oleh I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan berdasarkan data statistik peternakan ada peningkatan tajam pada produksi unggas nasional. pada tahun 2018 sesuai dengan data BPS produksinya telah mencapai 3.565.495 ton atau 116,9 % dari kebutuhan nasional sebesar 3.047.676 ton, sedangkan untuk produksi telur ayam tahun 2018 sebanyak 1.756.691 ton atau 101,5 % dari kebutuhan nasional sebesar 1.730.550 ton. Kemudian lanjut I Ketut Diarmita menyebutkan sesuai data BPS,pada tingkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia tahun 2018 untuk daging ayam dan telur lebih tinggi bila dibandingkan konsumsi daging sapi, tingkat konsumsi daging ayam broiler tahun 2018 sebesar 11,5 kg/ kapita/ tahun, telur ayam 6,53 kg/ kapita/ tahun (125 butir/ kapita/ tahun), sedangkan konsumsi daging sapi hanya 2,5 kg/ kapita/ tahun, dan konsumsi susu 16,43 kg/kapita/tahun.

Dengan demikian dapat dikatakan dari segi konsumsi protein penduduk Indonesia cukup baik disektor nabati, kemudian pada konsumsi protein hewani hanya konsumsi daging sapi yang rendah namun pada konsumsi ikan dan telur cukup baik. Akankah penyebab stunting di Indonesia itu dari rendahnya konsumsi daging sapi, atau mungkin pula dari rendahnya konsumsi nutrisi yang berasal dari susu ataupun hal lainnya. Jawabanya tentu perlu sebuah analisa dan kajian yang lebih mendalam dari berbagai pihak.

Kesimpulan

 

Bahwa Stunting adalah sebuah permasalahan kesehatan terutama pada pola asupan gizi, stunting merupakan kejadian yang dapat merenggut masa depan para anak-anak di usia tertentu dan dampaknya akan sangat berpengaruh besar bagi anak itu sendiri dan kelangsungan generasi pelanjut bangsa. Orang tua dalam hal ini harus lebih pro aktif dalam memperhatikan asupan gizi baik bagi janin dalam kandungan maupun anak yang telah dilahirkan. Untuk anak yang telanrlanjur stunting masih ada peluang untuk pulih namun keberhasilannya  tidak akan 100 persen seperti anak yang telah tumbuh normal dan sehat. Indonesia bukanlah tempat yang cocok untuk kasus Stunting namun yang menjadi perhatian adalah kasus Stunting begitu besar terjadi di Indonesia dan hal tersebut harus menjadi perhatian dan partisipasi oleh semua pihak untuk mencegahnya.

SUMBER REFERNESI:

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2017). Indonesia Menuju Swasembada Protein Hewani. Retrieved November 24, 2019, from litbang pertanian website: http://www.litbang.pertanian.go.id/info-aktual/2826/

Galuh Ilmia Cahyaningtyas. (2019). Dorong Peningkatan Ekspor serta Konsumsi Protein Hewani Produk Ayam. Retrieved November 24, 2019, from agrina website: http://www.agrina-online.com/detail-berita/2019/08/04/56/6653/dorong-peningkatan-ekspor-serta-konsumsi-protein-hewani-produk-ayam

Iman Rahman Cahyadi. (2018). Pemerintah dan Industri Harus Bersinergi Tangani Stunting. Retrieved November 20, 2018, from beritasatu website: https://www.beritasatu.com/nasional/490145/pemerintah-dan-industri-harus-bersinergi-tangani-stunting

Kemenkes. (2019). Pusat Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia 2018. Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan 2019.

Kharina Triananda. (2015). Ini Cara Memperbaiki “Stunting” Pada Anak. Retrieved from beritasatu website: https://www.beritasatu.com/kesehatan/287796/ini-cara-memperbaiki-stunting-pada-anak

Mohammad Atik Fajardin. (2018). Stunting Adalah Persoalan Besar, Pemerintah Diminta Fokus. Retrieved November 20, 2019, from https://nasional.sindonews.com/ website: https://nasional.sindonews.com/read/1301139/15/stunting-adalah-persoalan-besar-pemerintah-diminta-fokus-1524756685

Presiden, K. S. (2019). STRATEGI NASIONAL PERCEPATAN PENURUNAN STUNTING DI DPR, MOELDOKO: SERIBU HARI PERTAMA KEHIDUPAN ADALAH GOLDEN AGE. Retrieved November 20, 2019, from Kantor staf presiden website: http://ksp.go.id/strategi-nasional-percepatan-penurunan-stunting-di-dpr-moeldoko-seribu-hari-pertama-kehidupan-adalah-golden-age/index.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *