Artikel

Hari Kontrasepsi Sedunia: Momentum Menuju Keluarga Sejahtera

Oleh:

Dudi Fahdiansyah

Kasubid Bina Kesertaan KB Jalur Pemerintah dan Swasta (Jalpemswa)

 

 

Keluarga adalah representasi sebuah negeri, jika keluarga dalam negeri itu baik maka baik pulalah negeri itu, namun sebaliknya apabila keluarga dalam negeri itu buruk, maka hancurlah negeri itu

 

Sejak tahun 2007, World Contraception Day (WCD) atau Hari Kontrasepsi Sedunia diperingati secara rutin setiap 26 September. Peringatan kali ini mengangkat tema meningkatkan  pelayanan KB dan kesehatan reproduksi guna mencapai Indonesia sehat. Tema ini dirasa sangat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat Indonesia yang mulai memahami arti pentingnya hidup sehat. Peringatan HKS juga dijadikan momentum untuk menyuarakan pentingnya pengetahuan perempuan dan laki-laki terkait kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga melalui KIE (Komunikasi, Informasi, Edukasi).

Berdasarkan data yang diolah melalui Statistik Rutin BKKBN memperlihatkan bahwa minat laki-laki untuk ber-KB masih rendah dibandingkan perempuan, itupun didominasi oleh kontrasepsi Kondom. Sedangkan minat laki-laki untuk ber-KB Vasektomi (MOP) masih sangat kecil namun menunjukkan peningkatan.

Peningkatan akses informasi dan layanan kontrasepsi akan berdampak positif terhadap peningkatan  sosio ekonomi masayarakat utamanya sasaran program KB yaitu Pasangan Usia Subur. Seperti merencanakan jumlah anak, merencanakan jarak kehamilan/kelahiran, menjadikan perempuan mampu didengar pendapatnya dalam keluarga, memungkinkan perempuan menyelesaikan pendidikan terbaik dan meningkatkan otonomi perempuan di keluarganya serta memperkuat ekonomi keluarga.

Peringatan Hari Kontrasepsi bukan hanya sebatas acara seremonial belaka, namun lebih penting lagi adalah memberikan edukasi secara menyeluruh kepada masyarakat tentang pentingnya Keluarga Berencana. Pemberian edukasi kepada masyarakat yang bebasis media sangat relevan saat ini, baik media social, media televisi, media cetak maupun melalui kegiatan-kegiatan strategis lainnya seperti sosialisasi kesehatan reproduksi, grebek pasar, pelayanan KB gratis dan sebagainya.

Sulawesi Barat dengan populasi sebanyak 1,35 juta jiwa (BPS, 2018), dimana 381,183 jiwa  atau 28,12 % adalah penduduk usia remaja (10-24 tahun) dan terdapat 186,011 (13,72%) remaja perempuan yang akan tumbuh menjadi perempuan dewasa dan seorang ibu. Jumlah ini merupakan jumlah yang besar dan perlu dilakukan antisipasi sejak dini dengan memberikan edukasi kepada remaja-remaja. Pemberian edukasi dirasakan sangat penting melalui berbagai kegiatan yang bernuansa remaja, apalagi saat ini kita sedang dihadapkan pada kaum millennial yang membutuhkan pendekatan khusus untuk bisa merangkul dan menjadikan mereka sebagai bagian dari program KB.  Berdasarkan data Statistik Rutin BKKBN tahun 2018, terjadi peningkatan penggunaan kontrasepsi sebanyak 17,469 atau 12,09% dari tahun 2017. Kondisi ini sejalan dengan penurunan angka kelahiran (TFR) dari 3,6 anak per perempuan tahun 2012 menjadi 2,7 anak per perempuan pada tahun 2017.

Meningkatnya minat pasangan usia subur (PUS) di Sulawesi Barat dalam penggunaan alat kontrasepsi merupakan hal yang sangat positif, mengingat Sulawesi Barat merupakan daerah pengembangan baru dengan jumlah penduduk yang relative kecil. Namun demikian, upaya preventif dan promotive terhadap peningkatan kuantitas penduduk harus dilakukan secara dini dan berkelanjutan. Pemahaman masyarakat yang mengutamakan kuantitas dibanding kualitas penduduk harus digerus sedikit demi sedikit karena tidak respon jaman lagi. Peningkatan kuantitas penduduk akan berdampak pada segala dimensi kehidupan manusia, segi ekonomi, social budaya, Pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, keamanan dan lain sebagainya.

 

Sejarah Alat Kontrasepsi

Alat kontrasepsi sudah dikenal jauh sebelum era modern yaitu sejak 1550 tahun Sebelum Masehi (SM). Pengetahuan alat kontrasepsi ditemukan pada sebuah naskah Mesir (Eber Papyrus), pada naskah tersebut terdapat catatan tentang arahan bagi perempuan untuk mencampur akasia dengan madu, kemudian dioleskan pada wol untuk digunakan sebagai alat pencegah kehamilan.

Sejarah perkembangan kontrasepsi hormonal dimulai pada awal abad ke-20 dengan melakukan transplantasi ovarium binatang percobaan yang sedang hamil kepada binatang lain dari spesies sama yang dilakukan oleh Haberlandt pada tahun 1921. Ia menemukan kemandulan sementara pada binatang yang menerima transplantasi. Pada tahun 1930 Allen melakukan isolasi progesteron, dan pada tahun-tahun berikutnya Bickenbach dan von Massenbach menemukan bahwa progesteron, testosteron, dan estrogen dapat menghambat ovulasi. Walaupun demikian, sampai tahun 1950 hormon steroid ini belum mendapat tempat sebagai antifertilitas, tetapi banyak menghasilkan kortison. Barulah pada tahun 1950-an setelah Pincus, Chang, dan Rock menemukan bahwa pemberian hormon progesteron pada hari ke 5 sampai ke 25 siklus haid dapat menghambat ovulasi, hormon steroid ini dipakai untuk keperluan kontrasepsi. Percobaan pertama pemakaian kontrasepsi oral dengan noretindrel dan mestranol di Puerto Rico pada tahun 1956 membuktikan daya guna yang sangat tinggi sebagai kontrasepsi. Perkembangan kontrasepsi hormonal berlangsung terus, tahun 1960 pil kombinasi estrogen-progesteron mulai digunakan dan sampai sekarang banyak diadakan penyesuaian dosis atau penggunaan progesteron saja, sehingga muncul minipil. Tujuannya agar didapatkan suatu kontrasepsi hormonal yang mempunyai daya guna tinggi, efek samping minimal, dan keluhan pasien yang sekecil-kecilnya.12 Bagi wanita usia subur yang aktif secara seksual serta tidak menggunakan kontrasepsi, angka kehamilan mendekati 90% dalam 1 tahun. Bagi wanita yang tidak menginginkan kehamilan, pengaturan kesuburan dapat dilakukan saat ini, dengan berbagai metode kontrasepsi yang efektif. World Health Organization (WHO) telah menyusun empat petunjuk tentang keluarga berencana yang berbasis pada bukti, yang mencakup topik tentang pemilihan kontrasepsi, konseling pasien, dan metode penggunaan.

 

Alat Kontrasepsi dan Keluarga Sejahtera

Keluarga merupakan kelompok primer yang terpenting dalam masyarakat. Secara historis keluarga terbentuk dari satuan yang merupakan orgaisasi terbatas, dan mempunyai ukuran yang minimum, terutama pihak-pihak yang pada awalnya mengadakan suatu ikatan. Keluarga tetap merupakan bagian dari masyarakat total yang lahir dan berada didalamnya, yang secara berangsur-angsur akan melepaskan ciri-ciri tersebut karena tumbuhnya mereka ke arah pendewasaan.

Menurut Salvicion dan Celis (dalam Pujosuwarno, 1994;37) didalam keluarga terdapat dua atau lebih dari dua pribadi yang tergabung karena hbungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan hidupnya dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan. Kepala keluarga Bersama-sama dengan anggota keluarga bertanggung jawab penuh pada keluarganya dengan pemenuhan kebutuhan keluarga yang meliputi aspek papan, sandang, pangan serta kesejahteraan keluarga.

Penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu kebutuhan utama bagi keluarga untuk membentuk keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Manfaat dari penggunaan alat kontrasepsi tidak semata untuk menekan angka kelahiran atau mencegah kehamilan, akan tetapi banyak sekali manfaat lainnya. Manfaat tersebut antara lain mengurangi risiko aborsi, mengurangi angka kematian ibu dan janin, menjaga kesehatan mental keluarga, mencegah penularan HIV/AIDS dan terutama menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

Lebih jauh lagi tentu keluarga harus merencanakan segala sesuatunya sejak dini, termasuk merencanakan jumlah anak, jarak kehamilan dan kapan mengakhiri kehamilan dengan menggunakan alat kontrasepsi sesuai kebutuhan.  JIka kesadaran semua masyarakat sudah membaik tentang perencaan hidup berkeluarga, maka dapat diasumsikan bahwa keluarga-keluarga Indonesia akan menjadi keluarga yang berkualitas, bahagia dan sejahtera.

Masalah ekonomi akan timbul jika keluarga menengah kebawah memiliki banyak anak, semakin banyak anak perhatian kedua orang tua juga tidak akan terfokus dan memicu persaingan tidak sehat diantara anggota keluarga bahkan bisa terjadi perselisihan. Kondisi ini akan berdampak pada psikologis anggota keluarga, sehingga dalam berinteraksi terhadap lingkungan social cenderung tidak baik dan menyebabkan stress pada diri anak. Oleh karena itu, pemerintah (BKKBN) hadir dengan menawarkan program pembangunan keluarga, dimana didalamnya terdapat kegiatan-kegiatan yang berbasis kelompok sebagai wadah bagi keluarga (orang tua) untuk mendapatkan informasi tentang ketahanan keluarga dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *