Artikel

DETERMINAN USIA KAWIN PERTAMA

Posted
Kaprawi Rahman, S.Pd
Peneliti Pertama Perwakilan BKKBN Prov. Sulbar

 

 

Dengan menggunakan berbagai sumber data, mencakup literature review. Analisis literature review dilakukan terhadap semua hasil-hasil survei dan riset yang telah dilakukan baik skala nasional maupun lokal. Hasil tersebut kemudian dianalisa dan dirangkai menjadi satu kesatuan informasi.

 

Perkawinan menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 6 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan menyebutkan salah satu syaratnya adalah perkawinan harus didasarkan atas persetujuan kedua calon mempelai untuk melangsungkan perkawinan, seorang yang belum mencapai umur 21 tahun harus mendapat ijin kedua orangtuanya/ salah satu orang tuanya, perkawinan hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan wanita mencapai umur 16 tahun, jika ada penyimpangan harus ada ijin dari pengadilan/pejabat yang ditunjuk oleh kedua orang tua pihak pria maupun wanita.

 

Seorang anak memiliki hak dan kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik sehinga menjadi orang dewasa yang sehat dan produktif. Apabila terjadi pernikahan di bawah usia reproduksi sehat akan berdampak pada berbagai risiko kesehatan. Hal ini disebabkan pernikahan yang terjadi di bawah usia reproduksi menyebabkan organ reproduksi perempuan belum siap untuk hamil dan melahirkan sehingga dapat membahayakan si ibu dan bayi. Dari sisi kematangan akan berdampak pada psikologis si anak karena proses pendewasaan belum terjadi dan harus menjalani kehidupan rumah tangga.

 

Undang-undang perlindungan anak, usia kurang dari 18 tahun tergolong masih anak-anak. Untuk itu BKKBN memberikan batasan  usia pernikahan yang paling ideal adalah 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi laki-laki. Berdasarkan ilmu kesehatan usia kematangan pada wanita secara bologis dan psikologis adalah di umur 20-25 tahun kemudian pada pria di umur 25-30 tahun. Dengan demikian usia yang paling baik untuk berumah tangga minimal pada usia 20 tahun keatas atau 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Pasangan yang menikah pada usia ideal akan memiliki kesiapan fisik dan mental  sehingga memiliki peluang besar menciptakan kelaurga yang berkualitas.

 

Melirik tren usia kawin pertama di Indonesia berdasarkan jenis kelamin (Susenas 1995-2016) dari tahun 1995 sampai tahun 2006, secara umum usia kawin pertama meningkat meskipun terjadi penurunan di tahun 2001. Hal ini berlaku baik bagi laki-laki maupun perempuan. Dari data (Susenas 2008-2012) gambar 3. Provinsi Sulawesi Barat, Papua, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat merupakan lima Provinsi yang memiliki rata-rata tertinggi untuk persentase perkawinan usia anak di bawah 15 tahun. Kelima Provinsi tersebut memiliki angka anak perempuan menikah sebelum umur 15 tahun yang cenderung tinggi 50,000 per tahun. Prevalensi juga tinggi dengan persentase di antara 3,8 dan 5,5 persen. Persentase perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 15 tahun  menurut lima Provinsi terlihat pada gambar 1.

Gambar 1. Persentase perempuan pernah kawin usia 20-24 tahun yang menikah sebelum usia 15 tahun

menurut lima Provinsi dengan rata-rata persentase tertinggi, 2008- 2012 (Susenas 2008-2012)

 

Berdasarkan analisis beberapa literature, Usia perkawinan pertama pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor dan diantaranya menurut beberapa pendapat yaitu :

  1. Tingkat pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua, maka secara otomatis perkawinan anak akan tertunda, karena orang tua tersebut akan mengedepankan pendidikan untuk anaknya. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah tingkat pendidikan orang tua maka semakin rendah pula persepsi orang tua untuk menikahkan anaknya (Cahyani D, 2013). (Kaprawi Rahman, 2018) hasil pemutahiran data Pendataan Keluarga Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat 2015 jumlah jiwa dalam keluarga berdasarkan tingkat pendidikan dari 1.215.139 jiwa, 125.114 jiwa (12,13%)  tidak tamat SD, 282.810 jiwa (27,42%) berpendidikan tamat SD, 115.220 (11,17%) berpendidikan tamat SMP dan 183.659 jiwa (15,11%) tidak bersekolah.

 

  1. Pengetahuan

(Depdikbud, 1995). Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk adalah ilmu. (Notoatmojo, 2002) Pengetahuan merupakan hasil tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, terjadi melalui panca indra manusia yaitu, indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan dasar untuk terbentuknya tindakan seseorang. Melirik hasil pemutakhiran data Pendataan Keluarga Perwakilan BKKBN Provinsi Sulawesi Barat 2015 tergambar bahwa tingkat pengetahuan masih sangat rendah dengan banyaknya jumlah jiwa yang tidak tamat SD dan tidak bersekolah. Hal ini berdampak pada terjadinya perkawinan anak yang cukup tinggi. Berdasarkan laporan BPS tahun 2016 analisis data perkawinan anak Provinsi Sulawesi Barat mencapai 37 % lalu Pendataan Keluarga oleh Perwakilan BKKBN Povinsi Sulawesi Barat tahun 2017 perkawinan anak sebelum umur 18 di Provinsi Sulawesi Barat  adalah 34.2 %. Kedua hal data tersebut menempatkan menempatkan Povinsi Sulawesi Barat dengan angka pernikahan anak tertinggi di Indonesia.

 

  1. Sosial Budaya dan Dukungan Keluarga

Norma-norma yang berlaku di masyarakat seringkali juga mendorong motivasi seseorang untuk melangsungkan perkawinan usia muda. Terkadang orang tua takut anaknya dikatakan perawan tua sehingga segera dikawinkan. Faktor adat dan budaya, di beberapa belahan daerah di Indonesia, masih terdapat beberapa pemahaman tentang perjodohan. Dimana anak gadisnya sejak kecil telah dijodohkan orang tuanya dan akan segera dinikahkan sesaat setelah anak tersebut mengalami masa menstruasi. Pada hal umumnya anak-anak perempuan mulai menstruasi di usia 12 tahun, jauh dibawah usia minimum sebuah pernikahan yang diamanatkan UU (ahmad, 2009).  Dukungan keluarga adalah sikap, tindakan dan penerimaan keluarga terhadap anggotanya. Anggota keluarga memandang bahwa orang yang bersifat mendukung selalu siap memberikan pertolongan dan bantuan jika diperlukan (Friedman, 1998).

Aspek sosial budaya dan dukungan keluarga juga berkontribusi pada usia kawin pertama yang terbilng muda. Masyarakat Sulawesi Barat cenderung menikahkan anaknya lebih cepat dari standar usia kawin yang ideal, sebagian alasannya adalah banyak anak banyak rejeki, alasan lain adalah takut anak gadisnya menjadi perawan tua sehingga menikah sebagai solusi. Hal ini masih dianut oleh sebagaian masyarakat dan mendapat dukungan dari berbagai keluarga. Hasil penelitian pernikahan dini dan perceraian di Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamuju Tengah ditemukan alasan tertinggi kedua bahwa orangtua memilih menikahkan anaknya karena tak lagi bersekolah dan memilih menikahkan anaknya sebagai solusi.

 

SUMBER REFERENSI

 

Cahyani D dan Sunarko. (2013). Pengaruh Tingkat Pendidikan Orang Tua danTingkat Pendapatan Orang Tua terhadap Usia kawin Pertama Anak Wanitadi Kecamatan Tersono Kabupaten Batang Tahun 2013. Http ://jurnal.unnes.ac.id/sju/indek php/edugeu.

Kaprawi Rahman. (2018). Pernikahan Dini Jembatan Menuju Perceraian Study Kasus Kecamatan Wonomulyo Dan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar. Maju Provinsi Sulawesi Barat, 1.

Lucas,  Bouge. (1990). Pengantar Kependudukan,Cetakan Keempat. Yogyakarta

Notoatmodjo,S.(2002). Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipta, Jakarta

Rencana Aksi Daerah Pangan & Gizi 2015-2019.(2016). Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat

Ritamariani A. (2017). Tekan Pernikahan Usia Dini. Unicef – BKKBN Sulbar: Mamuju

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *